Tekanan emosi dalam otak dan hatiku memuncak.
Nelangsa ini semakin menjadi-jadi,
dan memaksaku selalu menggunakan topeng kemunafikan,
agar aku tampak bahagia.
Hari-hariku ini sebenarnya semakin kelabu,
simpul senyum yang selalu terbentuk di wajahku,
tergerogoti malam dengan sederhana.
Aku butuh teman bicara,
dan sudah pastilah ia yang aku butuhkan.
Ia yang mampu membawaku bicara dalam diam.
Dan hanya yang ia bisa.
Hanya ia.
Ia selalu mampu membawa tekanan-tekanan itu pergi,
dan mengobati lukanya begitu cepat,
seperti segala sesuatunya mudah dan sederhana.
Sedihnya,
ia pergi entah kemana,
dan dengan secuil alasan,
yang tak pernah mampu,
dicerna dengan mudah oleh akal sehatku,
gila!
Inilah hal yang selalu aku takutkan lebih dari apapun.
Satu-satunya orang yang mampu mengerti aku,
dan meredam keegoisanku pergi.
Walaupun ini bukan kali pertama ia pergi,
tapi ia tak pernah pergi sejauh ini sebelumnya.
Dan sekarang pun ia membiarkan jutaan paku tajam,
menusuk tubuhku perlahan.
Kali ini ia lakukan dengan sebegitu mudahnya.
Dan ia pun seperti sekumpulan debu yang tertiup angin.
Hilang.
masih aku ingat,
dan mungkin tak akan pernah terlupa,
ketika ia berjanji tak akan membiarkan aku berdiri sendirian,
apalagi hingga terjatuh begini.
Dan sekalinya ia pergi,
ia berjanji tak akan pergi sejauh ini.
Tapi nyatanya?
Aku hanya dapat tertawa,
sekalinya tawa itu memiliki arti yang berbeda.
Komentar
Posting Komentar