Waktu terasa memperlambat langkahnya. Entah waktu memperlambat, ataukah aku yang mempercepat diriku. Namun sungguh, dunia baru tidaklah terasa begitu mudah dan menyenangkan. Semakin aku perlahan menua, semakin aku memahami nista dan kerasnya dunia.
Sudah hampir separuh, waktuku di awal masa ini ku habiskan untuk bergumam dan meratapi bahwa tidak semuanya sama.
Masa sebelumnya memang sangatlah indah. Ketika masih naif dan mampu bersenda gurau, merasa dunia seperti komedi putar dengan sejuta kegembiraannya. Dan berkesimpulan seluruh orang akan dipukul rata memiliki segala yang serupa.
Duniaku yang baru, oh, di sinilah aku memasuki gerbang realita. Dunia tidak lagi berpura-pura. Dunia yang mengagung-agungkan seksualitas sebagai bahan bersenang-senang tanpa menyadari betapa sakralnya momen tersebut dan mereka sangat menikmatinya.
Ketika hanya dengan secangkir kopi dan buku mampu membawaku terjaga, mereka gemar berjaga dengan asyik menikmati sloki-sloki kecil, rokok dan wanitanya.
Percakapan dengan memberi julukan kawan seperti germo di pasar kembang terdengar biasa di telinga. Pesta, alkohol dan bersetubuh adalah tema dan topik perbincangan sehari-hari. Termasuk krisis pencarian kawan dan memaknai hebatnya ikatan pertemanan karena seolah hidup hanya demi mengejar popularitas dengan westernisasi yang disalah artikan, serta kecerdasan dan kedewasaan yang sangat diabaikan.
Aku di sini sudah bosan bahkan muak untuk bertele-tele. Bermain-main tidak lagi eksis di dalam kamus hidup. Menghapus egoisme, dan keinginanku memanja diri termasuk di dalamnya. Aku berlaga bak arsitek, merancang dan membentuk rencana masa kedepan disaat dunia baruku sibuk berpesta.
Ketika berkaca, banyak timbul pertanyaan, berenang naik ke permukaan. Apakah aku di masa yang tepat? Apakah waktu bergerak melambat? Ataukah kakiku yang melangkah terlalu cepat?
Komentar
Posting Komentar