terbilang cukup singkat juga jalan cerita yang ini
namun membuat beratus-ratus bulir air jatuh dari anak mata
entah skenario apa yang Tuhan buat kali ini
perjumpaan yang "super singkat" tapi membuat hatiku sebegitu terlukanya, kembali
aku memang bodoh, terlalu cepat menganggap haha hihi ini adalah perasaan tulus
memang, aku tau, bukan mudah menemukan seseorang yang tepat, aku paham betul itu
entah kenapa manusia ini sangat spesial, cepat sekali bagiku menemukan kata klik dari dirinya.
tetapi di hari itu, ketika dalam percakapan kami muncul pertanyaan yang dengan mudahnya kujawab "tidak pernah ada sesuatupun dan apapun", dan baginya hal tersebut sangat tidak mungkin terjadi di masa kini,
tiba-tiba, aku merasa kembali dilepaskan
apakah saat ini prinsip yang aku pegang teguh menjadi penghambat hubungan yang aku akan jalani?
apakah saat ini menjadi pasangan kekasih terukur dari seberapa pandainya "memadu kasih"?
apakah perasaan tidak lagi menjadi yang utama dalam menjalani sebuah hubungan?
ataukah.................
aku saja yang terlalu kolot menjaga satu-satunya yang aku punya ini?
aku tidak ketat menjaga bibirku, kupersilahkan siapapun yang kelak menjadi kekasihku memilikinya, meskipun hingga saat ini belum ada seorangpun merampas momen tersebut.
tetapi, untuk yang lain, tidak mudah bagiku melepaskan apa yang aku punya..
dalam pikiranku, aku selalu menginginkan suamiku kelak lah menjadi satu-satunya pengalaman pertamaku melepaskan apa yang aku jaga.
aku selalu menginginkan hal tersebut istimewa seumur hidupku.
tapi kenapa, sekarang, dengan mudahnya orang mengikuti hawa nafsu, dan melepaskannya?
dan hal tersebut menjadi tolok ukur seberapa menariknya seorang wanita dihadapan pria?
aku hanya ingin tahu alasannya, kenapa?
Komentar
Posting Komentar